Hal-hal yang perlu di perhatikan saat baru bekerja di perusahaan industri

 


Berikut sedikit tips tentang hal-hal yang perlu di perhatikan saat baru bekerja di perusahaan industri.


1. Alat pelindung diri ( APD) 

Sebagai karyawan baru, magang atau dalam masa percobaan kita perlu melengkapi alat pelindung diri sebelum ke area lapangan.

Jika sudah lengkap, kita juga perlu memastikan apakah alat pelindung diri tersebut layak digunakan atau tidak. Jika lengkap dan layak kita sudah bisa ke area.

Karena Alat pelindung diri merupakan hal wajib sebagai proteksi awal atau pengamanan dasar bagi kita bekerja. 


2. Mengenali safety sign (tanda bahaya)

Sebelum masuk ke suatu area, kita perlu mengenali apakah area tersebut berbahaya atau tidak, apa potensi bahayanya dan apa Alat pelindung diri yang di perlukan di area tersebut.

Juga perlu mengenali batas aman terhadap equipment. 


3. Ikuti instruksi (SOP /Standard Operating Procedure)

Saat dalam pengawasan pembimbing atau senior di area tersebut, harap jaga batas aman terhadap alat-alat jika perlu. Dan jangan malu bertanya supaya kita tahu apa perlakuan yang harus di lakukan di tempat tersebut.

Jangan lakukan hal yang meragukan atau hal yang kita tidak ketahui supaya tidak menyebabkan masalah baru. 


4. Mencatat 

Catat hal yang perlu di catat tentang apapun yang sekiranya di perlukan untuk dicatat supaya saat diperlukan kita bisa mengingat kembali jika lupa. 


Mungkin itu beberapa tips dari admin, jika ada koreksi atau tambahan harap tuliskan di kolom komentar. 

Gas, Cairan dan padatan

 











Bahan baku dasar pembuatan pulp

Bahan baku dasar pembuatan pulp adalah selulosa dalam bentuk serat dan hampir semua tumbuhan yang mengandung selulosa dapat dipakai sebagai bahan baku pembuatan pulp. Bahan baku yang digunakan dapat berupa jerami. Kayu jarum misalnya kayu pinus, kayu turi dan bambu, sedangkan yang termasuk kayu daun misalnya jerami, merang, batang pisang dan rumput-rumputan. Batang pisang merupakan salah satu limbah (buangan) dari perkebunan pisang dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pulp, karena mengandung selulosa. Selulosa terdapat pada semua tumbuhan, dari pohon bertingkat tinggi hingga organisme primitive seperti lumut dan gangang. Hampir semua tumbuhan yang mengandung selulosa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan pulp (Fengel.D,1995). Komponen lignoselulosa merupakan bagian terbesar yang menyusun tumbuh tumbuhan. Komponen ini terdiri dari selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Lignoselulosa yang terdapat dalam limbah pertanian terdiri dari 40 – 60 % selulosa, 20 – 30 % hemiselulosa, dan 15 – 30 % lignin. Susunan selulosa, hemiselulosa dan lignin dalam sel tanaman sangat kompleks. Hemiselulosa bersama lignin membalut serta menyatukan serat-serat selulosa. Wujud dari tiga dimensi lignin mengakibatkan struktur sel tanaman bersifat pasif dan kaku. Susunan yang kompleks tersebut mengakibatkan proses pemisahan komponen-komponen ini cukup rumit.

Selulosa merupakan senyawa organik yang paling banyak melimpah di alam, karena struktur bahan seluruh dunia tumbuhan terdiri atas sebahagian besar selulosa. Suatu jaringan yang terdiri atas beberapa lapis serat selulosa adalah unsur penguat utama dinding sel tumbuhan. Didalam selulosa terdapat dalam bentuk serat-serat. Serat-serat selulosa mempunyai kekuatan mekanik yang tinggi. Selulosa merupakan suatu polimer yang berantai lurus yang terdiri dari unit-unit glukosa. Bobot molekul selulosa alamiah sukar diukur, dikarenakan degradasi yang terjadi selama isolasi. Panjang rantainya berbeda-beda dari jenis tumbuhan yang berbeda. Selulosa termasuk senyawa polisakarida yang mempunyai rumus empiris (C6H10O5)n, dimana n berkisar dari 2000 sampai dengan 3000. Nama hemiselulosa pertama kali diusulkan oleh Sehulzz pada tahun 1891 untuk menunjukkan polisakarida-polisakarida yang dapat disaring atau diekstraksi sebagai larutan alkali. Hemiselulosa menyusun sekitar 1/2 tumbuhan tahunan dan sekitar 1/3 tumbuhan semusim. Istilah hemiselulosa menunjukkan pada sejumlah besar polisakarida kompleks yang menyertai selulosa dalam dinding sel tumbuhan. Kebanyakan hemiselulosa adalah heteropolisakarida yang mengandung dua atau lebih monosakarida yang berlainan. Hemiselulosa mudah diekstraksi dari serat-serat dan kayu dengan larutan alkali. Hemiselulosa termasuk polisakarida yang terdapat bersama-sama dengan selulosa, bila dihidrolisa menghasilkan bermacam-macam sakarida seperti heksosa dan pentosa. Lignin adalah polimer yang kompleks dengan berat molekul tinggi dan tersusun atas unit-unit fenil propan. Meskipun tersusun atas karbon, hidrogen dan oksida, tetapi lignin bukanlah suatu karbohidrat. Lignin terdapat di antara sel-sel dan didalam dinding sel. Di antara dinding sel lignin berfungsi sebagai pengikat untuk sel-sel secara bersama-sama.

    Cara yang baik untuk mengisolasi lignin adalah dengan melarutkannya dalam pelarut yang cocok seperti dioksan. Lignin dengan hasil isolasi dengan cara ini lebih murni dan strukturnya relatif tidak berubah, hal ini disebabkan dioksan tidak bereaksi dengan lignin. Di dalam tumbuh-tumbuhan, lignin merupakan bahan yang tidak berwarna. Jika lignin bersentuhan dengan adanya sinar matahari, maka lama-lama lignin cenderung menjadi kuning.

    Karenanya kertas koran yang terbuat dari serat-serat yang dipisahkan secara mekanis tanpa bahan kimia, tidak berumur panjang karena kecenderungannya menjadi kuning. Pulp adalah hasil pemisahan serat dari bahan baku berserat (kayu maupun non kayu) melalui berbagai proses pembuatannya (mekanis, semikimia dan kimia). Pulp terdiri dari serat-serat (selulosa dan hemiselulosa) sebagai bahan baku kertas. Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami dan mengandung selulosa dan hemiselulosa. Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan, kebersihan ataupun toilet. Sebagai bahan baku kertas, parameter yang penting dari pulp adalah kandungan selulosa dan kandungan lignin. Kandungan selulosa yang tinggi sangat diperlukan pada pembuatan kertas karena merupakan bahan dengan rantai yang panjang sehingga dengan kadar yang tinggi kertas yang dihasilkan akan kuat. Sedangkan kandungan lignin menunjukkan banyaknya lignin dalam pulp. Kandungan lignin yang tinggi dalam pulp tidak diinginkan, karena adanya lignin dapat menimbulkan warna coklat pada kertas. Adapun kualitas pulp kertas dapat ditunjukkan pada Tabel 1 dan Tabel 2.

    Hampir semua tumbuhan yang mengandung selulosa dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan bubur kertas (pulp). Proses pembuatan pulp adalah proses pemisahan lignin untuk memperoleh selulosa dari bahan berserat. Oleh karena itu selulosa harus bersih dari lignin supaya kualitas kertas yang dihasilkan tidak berubah warna selama pemakaian. Proses pembuatan pulp dapat dibagi menjadi tiga proses yaitu proses mekanis, proses semi kimia, dan proses kimia. Pembuatan pulp secara mekanis dilakukan tanpa menggunakan bahan kimia yaitu dengan cara menguraikan serat yang ada di dalam kayu secara paksa dengan menggunakan aksi mekanis. Bahan baku digiling dalam keadaan basah, serat-serat kayu akan terlepas, kemudian disaring sampai kehalusan tertentu untuk memperoleh bubur kertas (pulp). Dalam proses mekanis ini tidak dilakukan pemisahan komponen-komponen yang terdapat di dalam kayu sehingga pulp yang dihasilkan mempunyai kandungan bahan seperti semula. Keuntungan proses ini adalah biaya produksi yang rendah dan hasil yang tinggi karena pulp yang diperoleh sekitar 90 % dari bahan semula. Kelemahannya adalah rendahnya mutu kertas yang dihasilkan, dimana kertas mudah sekali menjadi kuning dan kecoklatan karena kandungan ligninnya masih banyak.

    Proses semi kimia adalah karena pada tahap awal pembuatan pulp digunakan bahan-bahan kimia sebagai pelunak bahan baku. Pelunakan dimaksudkan untuk memutuskan ikatan lignoselulosa dengan menghilangkan sebagian dari hemiselulosa dan lignin. Kemudian diperlakukan secara mekanis untuk memisahkan serat-seratnya. Disini pulp semi kimia masih mengandung lebih dari 25 % lignin yang terdapat dalam kayu. Pulp yang diperoleh biasanya digunakan untuk membuat kertas pembungkus, kertas cetak dan papan kertas Syamsul Bahri / Jurnal Teknologi Kimia Unimal 4 : 2 (November 2015) 36 - 50 41

Jika konsentrasi bahan kimia semakin tinggi, maka penyerapan terhadap selulosa semakin naik dibandingkan dengan penyerapan terhadap lignin, yang dapat menghasilkan rendemen dan kekuatan rendah. Proses pembuatan pulp secara kimia adalah proses pembuatan pulp yang menggunakan bahan kimia sebagai bahan utama untuk melarutkan bagian-bagian kayu yang tidak diinginkan. Rendemen pulp yang diperoleh dalam proses ini relatif rendah dibandingkan dengan proses mekanis dan semi kimia, yaitu antara 40 – 60 %, sehingga diperoleh produk selulosa yang lebih murni. Ada tiga macam proses pembuatan proses pembuatan pulp secara kimia yaitu proses soda, proses sulfat atau kraft, dan proses sulfit, masing-masing menggunakan larutan pemasak yang berbeda. Keuntungan-keuntungan memakai proses kimia pada pembuatan pulp antara lain:

a. Dapat dilakukan pada semua jenis bahan baku. b. Kekuatan pulp tinggi. c. Pulp yang dihasilkan dapat digunakan untuk pembuatan rayon. d. Kualitas kertas yang dihasilkan lebih tinggi. Pada proses pemasakan, faktor-faktor yang berpengaruh antara lain jenis bahan baku, konsentrasi bahan kimia, suhu, waktu pemasakan, konsentrasi pelarut dan perbandingan cara pemasak terhadap bahan baku. Pengenalan tentang anatomi kayu akan memberikan gambaran tentang bagian-bagian kayu yang berbeda sedangkan serat yang dinyatakan dalam panjang, tebal dinding dan sebagainya merupakan parameter yang berperan dalam kekuatan ikatan antar serat dalam lembaran kertas. Dengan demikian, jelas terlihat bahwa sifat dari serat yang digunakan akan menentukan kualitas kertasnya. Sehingga dalam pembuatan kertas, pengetahuan tentang bahan baku merupakan salah satu dasar yang perlu dikuasai.

Konsentrasi bahan kimia sangat penting dalam pembuatan pulp, karena berkaitan dengan reaksi antar bahan kimia pemasak dengan material kayu. Makin tinggi konsentrasi makin banyak material kayu yang bereaksi dengannya. Namun degradasi terhadap selulosa makin naik dibandingkan dengan penyerapan Syamsul Bahri / Jurnal Teknologi Kimia Unimal 4 : 2 (November 2015) 36 - 50 42

terhadap lignin. Hal semacam ini tidak diinginkan dalam proses pembuatan pulp. Namun konsentrasi tinggi tidak harus dihindari, hal itu diperlukan pada awal pemasakan untuk menetralisasi asam-asam yang terjadi. Untuk memperoleh pulp pada serat abaka dengan menggunakan bahan kimia, dengan cara dididihkan dalam NaOH 1–5 % (S. M. Khopkar, 1990). Waktu pemasakan sangat perlu diperhatikan, dimana waktu pemasakan dapat dikurangi beberapa saat dengan menaikkan suhu pemasakan. Biasanya pada waktu pemasakan tinggi rendemen dan kualitas pulp turun, sehingga pulp yang dihasilkan tidak bertahan lama. Vasquez, dkk (1994) menemukan bahwa semakin lama waktu reaksi maka semakin banyak lignin yang tersisihkan dari biomassa, sehingga kandungan lignin dalam pulp semakin berkurang, untuk waktu yang lebih lama kandungan lignin dalam pulp mempunyai kecendrungan untuk meningkat kembali. Waktu yang diperlukan untuk delignifikasi optimum adalah dalam rentang 60–120 menit, persen perolehan pulp dan selulosa tidak bertambah setelah 120 menit pemasakan. Suhu pemasakan sangat penting dalam melakukan pemasakan, biasanya suhu pemasakan sangat ditentukan oleh jenis bahan baku yang digunakan. Suhu pemasakan berhubungan dengan laju reaksi. Delignifikasi dengan pelarut organik umumnya berlangsung pada suhu diatas 130 oC. Dari persamaan Arhenius, menunjukkan bahwa semakin tinggi suhu reaksi maka konstanta laju delignifikasi akan semakin meningkat, sehingga pada suhu yang tinggi maka semakin banyak lignin yang dapat disisihkan dari biomassa. Selain meningkatnya laju delignifikasi pada suhu tinggi juga sebagian polisakarida akan terdegredasi (Vasquez dkk, 1994). Konsentrasi pelarut sangat penting dalam pembuatan pulp, karena berkaitan dengan reaksi antara pelarut dengan biomassa. Semakin tinggi konsentrasi pelarut semakin banyak biomassa yang bereaksi dengannya. Namun degradasi terhadap selulosa semakin naik dibandingkan penyerangan terhadap lignin. Hal semacam ini tidak diinginkan dalam proses pembuatan pulp. Tetapi konsentrasi tinggi tidak harus dihindari, hal itu diperlukan pada awal pemasakan untuk menetralisasi asam-asam yang terjadi. Syamsul Bahri / Jurnal Teknologi Kimia Unimal 4 : 2 (November 2015) 36 - 50 43

Pelarut organik akan mampu melarutkan lignin dengan baik pada konsentrasi tertentu. Untuk pemasakan TKS menggunakan proses etanol dengan katalis NaOH, konsentrasi etanol yang dipakai adalah 50 % (Nugroho dan Rusmanto, 1999). Pada konsentrasi ini etanol dapat menjaga selulosa terdegradasi pada suatu perbandingan cairan padatan tertentu. Marzuki (2005) dalam penelitiannya terhadap sabut kelapa juga menggunakan konsentrasi etanol sebesar 50 %. Perbandingan cairan pemasak terhadap bahan baku harus diketahui agar lignin dapat sempurna terlarut dalam cairan pemasak. Perbandingan yang terlalu besar akan menimbulkan ketidakhematan penggunaan cairan pemasak, sedangkan perbandingan yang terlalu kecil dapat menyebabkan pengendapan lignin. Untuk proses etanol-NaOH terhadap TKS digunakan perbandingan 20:1 (Nugroho dan Rusmanto, 1999), sedangkan Marzuki (2005) dalam penelitiannya terhadap sabut kelapa juga menggunakan perbandingan 20:1. 

Jenis-jenis kecelakaan kerja


 Berikut jenis - jenis kecelakaan kerja :


1. Fatality (meninggal)

Suatu kecelakaan kerja yang menghilangkan nyawa pekerja.


2. Lost Time Injury (luka serius)

Suatu kecelakaan kerja yang menyebabkan si pekerja tidak dapat melakukan pekerjaan rutin keesokan harinya atau jadwal shift berikutnya terhitung setelah hari kecelakaan terjadi.


3. Medical Treatment Injury (luka sedang)

Suatu kecelakaan kerja yang membutuhkan penanganan medis dan tidak menyebabkan kehilangan hari kerja, dengan catatan si pekerja dapat kembali bekerja setelah penanganan medis atau keesokan harinya sipekerja dapat kembali bekerja.


4. First aid Injury (luka ringan)

Suatu kecelakaan kerja yang dapat ditangani secara medis dengan menggunakan obat-obat di kotak P3K dan secara normal tidak membutuhkan penanganan medis lanjutan. 

Apa yang dimaksud dengan K3?

 



K3 Adalah singkatan dari keselamatan dan kesehatan kerja. 

Filosofi K3 yaitu upaya atau pemikiran dan penerapannya yang ditujukan untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budaya, untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja. 


K3 juga berarti suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, penyakit akibat kerja dan lainnya.

Lambang K3

Lambang K3 dan penjelasannya telah diatur dalam keputusan menteri tenaga kerja Republik Indonesia No. KEP 1135/MEN/1987 tentang bendera keselamatan dan kesehatan kerja.  

Arti dan makna Lambang K3 

Bentuk Lambang :
- palang dilingkari roda bergigi sebelas berwarna hijau diatas dasar putih. 

Arti dan makna Lambang :
- palang : bebas dari kecelakaan dan sakit akibat kerja. 
- roda gigi : bekerja dengan kesegaran jasmani dan rohani. 
- warna putih : bersih dan suci. 
- warna hijau : selamat, sehat dan sejahtera.
- 11 gerigi roda : 11 bab dalam undang-undang keselamatan kerja. 

Definisi K3

Keselamatan (Safety) : 
Mengendalikan kerugian akibat kecelakaan. 

Kesehatan (Health) :
Derajat atau tingkat keadaan fisik dan psikologi individu. 

Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) :
Suatu ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam upaya mencegah kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran, penyakit dan lain-lain di tempat kerja. 

Sistim manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) :
Bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. 


Apa itu check valve dan fungsinya

 


Check valve adalah alat yang digunakan untuk membuat aliran fluida hanya mengalir ke satu arah atau mencegah agar tidak terjadi aliran balik (back Flow).

Check valve tidak menggunakan handle untuk mengatur aliran fluida tetapi menggunakan gravitasi dan tekanan dari aliran fluida itu sendiri.

Check valve sering digunakan sebagai pengaman equipment atau pengontrol proses dalam suatu sistem perpipaan.

Aplikasi check valve dapat di jumpai pada outlet atau dischardge dari pompa centrifugal.

Ketika laju aliran fluida sesuai misalkan ke atas maka laju aliran fluida tersebut akan membuat plug atau disk terbuka. Dan saat ada tekanan dari fluida yang datang berlawanan misalkan ke bawah maka plug atau disk tersebut akan menutup sehingga aliran fluida tertahan.

Misalkan dalam sistem perpipaan dari pompa centrifugal tersebut tidak memakai check valve, maka bisa mengakibatkan tekanan atau Flow berkurang dari seharusnya. 

Apa Yang Dimaksud Dengan Koagulasi Dan Flokulasi?



Apa itu koagulasi?
Koagulasi didefinisikan sebagai proses destibilisasi muatan koloid padatan tersuspensi termasuk bakteri dan virus dengan suatu koagulan, sehingga akan terbentuk flok-flok halus yang dapat diendapkan. Proses pengikatan partikel koloid dengan cara pengadukan cepat (flash mixing), yang merupakan bagian integral dari proses koagulasi.

Tujuan pengadukan cepat adalah untuk mempercepat atau menyeragamkan penyebaran zat kimia melalui air.
Pengadukan cepat akan membuat partikel-partikel padat dalam air saling berbenturan dan bertemu sehingga terbentuk flok-flok yang halus. Koagulan yang umum dipakai adalah : aluminium sulfat (tawas), ferri sulfat, ferro sulfat dan PAC.

Umumnya partikel-partikel tersuspensi atau koloid dalam air buangan melibatkan efek browmian. Permukaan partikel-partikel tersebut bermuatan listrik negatif. Partikel-partikel itu menarik ion-ion positif yang terdapat dalam air dan menolak ion-ion negatif.

Ion-ion positif tersebut lalu menyelubungi partikel-partikel koloid dan membentuk lapisan rapat bermuatan didekat permukaannya. Lapisan yang terdiri ddari ion-ion positif itu disebut dengan lapisan kokoh. Adanya muatan-muatan pada permukaan partikel koloid tersebut menyebabkan pembentukan medan elektrostatik di sekitar partikel itu sehingga menimbulkan gaya tolak-menolak antar partikel. 

Disamping gaya tolak-menolak akibat muatan negatif pada partikel-partikel koloid, adagaya tarik menarik antara 2 partikel yang dikenal dengan gaya Van der walls. Selama tidak ada hal yang mempengaruhi kesetimbangan-kesetimbangan muatan-muatan listrik partikel koloid, gaya tolak-menolak yang selalu lebih besar dari pada gaya Van Der Walls dan akibatnya partikel koloid tetap dalam keadaan stabil.

Jika ion-ion atau koloid bermuatan positif (kation) ditambahkan kedalam koloid target koagulasi, maka kation tersebut akan masuk ke dalam lapisan difusi karena tertarik oleh muatan negatif yang ada dalam permukaan partikel koloid.

Hal ini menyebabkan konsentrasi ion-ion dalam lapisan difusi akan meningkat. Akibatnya ketebalan lapisan difusi akan berkurang.

Proses koagulasi juga dibagi dalam tahap secara fisika dan kimia.
Fisika : pemanasan, pengadukkan dan pendinginan.
Kimia : elektroforesis, penambahan koloid dan penambahan elektrolit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi.
- Suhu air
- Derajat keasaman
- Jenis koagulan
- Kadar ion terlarut
- Tingkat kekeruhan
- Dosis koagulan
- Kecepatan pengadukan
- Alkalinitas

Apa itu Flokulasi ?
Flokulasi merupakan proses pembentukan flok yang pada dasarnya menggunakan pengelompokkan aglomerasi antara partikel dengan koagulan (menggunakan proses pengadukkan lambat atau slow mixing).

Pada flokulasi terjadi proses penggabungan beberapa partikel menjadi flok yang berukuran besar. Partikel yang ukurannya besar akan lebih mudah diendapkan dari pada yang kecil.

Agar partikel koloid menggumpal, gaya tolak menolak elektrostatik antara partikelnya harus dikurangi dan transportasi partikelnya harus menghasilkan kontak diantara partikel yang mengalami destabilisasi. Setelah partikel-partikel koloid mengalami destabilisasi.

Setelah partikel-partikel koloid mengalami destabilisasi, sangat penting untuk membawa partikel-partikel tersebut kedalam suatu wadah berpengaduk antara satu dengan yang lainnya sehingga dapat menggumpal dan membentuk partikel atau flok yang lebih besar.




Sifat - Sifat Limbah Cair

Postingan ini adalah sambungan dari postingan Merencanakan proses pengolahan limbah cair. Dimana pada postingan ini akan menyampaikan tentang sifat-sifat limbah cair. 
Seperti : sifat fisik, sifat kimia dan biologinya. Selamat Membaca.

http://kimiatip.blogspot.com/2014/04/sifat-sifat-limbah-cair.html

Sifat - sifat limbah cair adalah : kandungan bahan pencemar limbah sehingga digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran limbah cair.

Sifat - sifat limbah cair dibedakan atas 3 sifat :
yaitu : Sifat fisik, sifat kimia dan sifat biologi.

1. Sifat Fisik Limbah
Yaitu : 
Sifat dari kandungan bahan pencemar limbah yang dapat diamati langsung dari panca indra dan penentuan parameter pencemarannya dapat dilakukan secara proses fisik.

Parameter pencemaran sifat fisik limbah cair antara lain adalah :

a. Kandungan padatan
Terdiri dari :
- padatan sedimen
- padatan suspensi

b. Kekeruhan
yaitu : sifat fisik limbah cair yang mengandung bahan pencemar yang menimbulkan kekeruhan.

c. Warna, bau dan rasa
yaitu : sifat fisik limbah cair yang mengandung bahan pencemar yang menimbulkan warna, bau dan   rasa.

d. Temperature
yaitu : Sifat fisik limbah cair yang mengandung energi yang menimbulkan temperatur naik / turun.

2. Sifat Kimia Limbah
yaitu :
Sifat kandungan bahan pencemar limbah cair yang tidak dapat diamati langsung dengan panca indra dan penentuan parameter pencemarannya dilakukan secara proses kimia.

Parameter pencemaran sifat kimia antara lain :
  • pH
  • Alkalinitas
  • DO ( Dissolved Oxygen Demand )
  • BOD ( Biochemical Oxygen Demand )
  • COD ( Chemical Oxygen Demand )
  • Kesadahan
  • Kandungan logam berat
  • Kandungan anion
  • Kandungan lemak atau minyak
  • Dan lainnya
3. Sifat Biologi Limbah Cair
yaitu :
Sifat dari kandungan bahan pencemar limbah dalam bentuk kandungan populasi mikroorganisme yang hidup dalam air limbah dan penentuan parameter pencemarannya secara proses mikrobiologi.

Parameter dari sifat biologi antara lain adalah :
  • Kandungan bakteri
  • Kandungan jamur
  • Kandungan virus
  • Dan lainnya
Berdasarkan sifat limbah cair, komponen bahan pencemar limbah dinyatakan terdiri dari 4 kelompok,
yaitu :
  • Persenyawaan organik
  • Persenyawaan anorganik
  • Populasi mikriirganisme
  • Energi

Merencanakan Proses Pengolahan Limbah Cair

Mengenal Konsep Dasar Limbah Cair


1. Pengertian Limbah Cair
: Sisa aktifitas kegiatan makhluk hidup berbentuk cairan yang tidak bermanfaat lagi dan jika  dibuang   ke lingkungan dapat merusak lingkungan.

Agar limbah cair tidak merusak lingkungan maka sebelum dibuang ke lingkungan harus diproses terlebih dahulu dengan melakukan pengolahan limbah.

Tujuan Pengolahan Limbah :
: Menurunkan tingkat pencemaran limbah sampai dengan standar baku mutu lingkungan sehingga tidak lagi mencemari lingkungan.

2. Sumber - sumber limbah cair
  • Kegiatan industri

  • Kegiatan domestik ( rumah tangga, hotel, kantor, pasar dll ).

  • Kegiatan peternakan, perikanan dan pertanian.

  • Resapan air tanah
3. Jenis - jenis limbah cair
Jenis - jenis limbah cair dibedakan dalam sifat dan karakternya.

a. Berdasarkan kandungan
  • Limbah organik                                                                                                               
yaitu : mengandung persenyawaan organik yang mudah terurai oleh mikroorganisme.           contohnya : limbah domestik dan peternakan.
  • Limbah anorganik                                                                                                            
yaitu : mengandung persenyawaan anorganik dan sulit terurai oleh mikroorganisme.            contohnya : limbah industri dan perbengkelan.

b. Berdasarkan tingkat bahayanya
  • Limbah cair B3                                                                                                     
yaitu : limbah cair yang mengandung bahan berbahaya dan beracun.                                     contoh : limbah cair industri yang mengandung logam berat.
Logam berat adalah : unsur logam pada konsentrasi sangat kecil menimbulkan bahaya yang besar.
contoh : logam Arsen ( As), logam mercury ( Hg ).
  • Limbah cair non B3  
yaitu : limbah cair yang tidak mengandung bahan berbahaya beracun.                                 
contoh : limbah cair kegiatan domestik.

  • Limbah cair radio aktif                                                                                                      
yaitu : limbah cair yang mengandung bahan radio aktif yang sangat berbahaya.

sambungan klick link disamping :http://kimiatip.blogspot.com/2014/04/sifat-sifat-limbah-cair.html

Prosedur Pengolahan Limbah Padat


Contoh dari proses pengolahan limbah padat adalah pembuatan kompos padat. 
Postingan ini adalah sambungan dari Mengolah limbah padat

Bahan yang digunakan :
  1. Limbah kotoran ternak ( 1 blek )
  2. Limbah dedak halus ( 1 blek )
  3. Limbah sekam padi  ( 1 blek )
  4. Molases ( tetes tebu / gula aren ) ( 5 sendok )
  5. Aktivator EM4 ( 5 sendok makan )
  6. Air ( 10 liter )
Alat yang digunakan :
  1. Ember plastik besar
  2. Garu atau sendok pencampur bahan
  3. Karung goni
  4. Gayung
  5. Ayakan
Prosedur kerja :
  1. Campurkan semua bahan limbah.
  2. Larutkan molases ke dalam air, aduk rata.
  3. Tambahkan EM4 campurkan dan aduk rata.
  4. Siramkan larutan tersebut ke dalam campuran limbah kemudian aduk hingga rata dengan kadar air sekitar 30 - 40 %.
  5. Ratakan campuran bahan dalam goni, setebal 15 - 20 cm diatas lantai ( goninya dalam keadaan rebah ).
  6. Setelah 6 sampai 7 hari, kompos sudah matang.
  7. Lakukan pemisahan dengan cara pengayakan.
  8. Lakukan identifikasi kompos.
Keterangan :
  • Untuk mengetahui kadar air 30 - 40 % dengan cara meremas campuran bahan dengan tangan. Campuran akan tetap menggumpal di tangan dan mudah pecah jika disentuh.
  • EM4 adalah aktivator pengomposan dan kepanjangannya adalah ( Effective Mikroorganisme ) yang mengandung : Azotobactner sp, lactobacillus sp, ragi, bakteri fotosintesik dan jamur pengurai selulosa.
 
Teori dasar mengolah limbah padat klick disini